Jumat, 10 Januari 2014

Mencegah Osteoporosis Secara Herbal


MENCEGAH OSTEOPOROSIS
Disusun oleh
Nidya Agustiani Putrianti
NIM                     13SP277037
Prodi           S1 Keperawatan
Tingkat       1 ( satu )
Abstrak
Osteoporosis berarti tulang yang berlubang atau keropos. Osteoporosis bisa menyebabkan patah tulang. Tanda-tanda osteoporosis : Tinggi badan memendek, nyeri pada tulang, sakit pinggang, tubuh bungkuk (kyposis). Proses perkembangan tulang sampai terjadinya osteoporosis : Struktur normal tulang, perubahan massa tulang sepanjang fase kehidupan. Perubahan struktur tulang pada penderita osteoporosis. Jenis-jenis osteoporosis yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder. Faktor Resiko Osteoporosis yaitu jenis kelamin, umur, ras, riwayat keluarga, tipe tubuh, monopouse. Akibat osteoporosis yaitu patah tulang pergelangan, patah tulang belakang / punggung, patah tulang pinggul. Cara pengobatan osteoporosis yaitu terapi medis,terapi hormon pada wanita, terapi non-hormonal, terapi alamiah. Zat gizi pencegah osteoporosis : Kalsium, Fosfor, Mangan dan boron, Vitamin D, Fitoestrogen (estrogen alami). Bahan makanan pencegah osteoporosis diantaranya susu dan produk olahannya, ikan yang di makan bersama tulangnya, buah dan sayur yang berwarna hijau, kuning, merah, atau oranye. Resep untuk mencegah dan mengendalikan osteoporosis diantaranya : Resep tradisional yaitu bandeng presto, belut cabai hijau, dan  gulai daun singkong tumbuk. Minuman mangga egg nog. Jus buah dan sayuran pencegah osteoporosis jus anggur kiwi, hula kula, dan susu kacang hijau.
A.  Latar Belakang
1.     Teoritis
       Banyak orang tidak menyadari pentingnya fungsi tulang dalam hidup, yaitu memberi bentuk tubuh, sebagai melekatnya otot, serta memberikan perlindungan pada organ dibawahnya. Tulang manusia mengalami puncaknya pada kurun waktu umur 20 – 40 tahun, sampai terjadi proses penuaan dimana tulang mulai kehilangan kekuatannya (Suparto, 2000). Selain itu juga banyak kondisi yang dapat mempercepat proses berkurangnya masa tulang. Dengan rendahnya massa tulang dapat menimbulkan pengeroposan tulang atau osteoporosis. Hal ini dapat menyebabkan pergerakan tulang sangat terbatas, timbul rasa nyeri, bentuk tubuh atau anggota badan berubah dan kemampuan fisik menurun. Komplikasi yang berakibat fatal adalah terjadinya patah tulang panggul, yang merupakan penyebab kecelakaan yang membawa maut apabila tidak ditangani dengan serius.
       Berdasarkan data dari Third National Health and Nutrition Examination Survey tahun 2000 yang mencakup pengukuran densitas mineral tulang. 20% wanita dan 5% laki-laki berusia 50 tahun keatas di Amerika Serikat menderita osteoporosis yang menjadi penyebab utama dari resiko retak atau patah tulang. Kira-kira 250.000 kasus tiap tahun di Amerika Serikat mengalami patah tulang panggul yang memiliki tingkat mortalitas tinggi.
       Menurut hasil analisa data yang dilakukan oleh Puslitbang Gizi Depkes pada 14 propinsi pada tahun 2004 menunjukkan bahwa maslah osteoporosis di Indonesia telah mencapai tingkat yang perlu diwaspadain yaitu 19,7%. Itulah kecenderungan osteoporosis di Indonesia 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Negara Belanda. Lima propinsi dengan resiko osteoporosis yang tinggi adalah Sumatra Selatan (27,7%), Jawa Tengah (24,02%), DI Jogyakarta (23,5%), Sumatra Utara (22,82%), Jawa Timur (21,42%) dan Kalimantan Timur (10,5%). Bila dibandingkan dengan di dunia, Indonesia menempati urutan keempat dunia sebagai Negara yang mempunyai penduduk lanjut usia paling banyak setelah Cina, India dan Amerika. Sebagai konsekwensinya, Indonesia menghadapi masalah-masalah penyakit yang ditimbulkan akibat lanjut usia, salah satunya osteoporosis. (www. Depkes RI,2004).
       Penelitian lain di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Medan pada tahun 2002 juga makin menunjukkan bahwa osteoporosis di Indonesia sudah seharusnya diwaspadai. Dari 101.161 responden, ternyata 29% diantaranya telah menderita osteoporosis (Depkes RI,2004). Di Jakarta, sebuah Rumah Sakit swasta yaitu Rumah Sakit Siaga Raya khusus Orthopaedi manunjukkan dalam tahun 2008 terdapat pasien yang mengalami patah tulang panggul sebanyak 74 orang, dimana telah dilakukan tindakan operasi maupun konsevatif dengan menggunakan obat-obatan.
       Insiden (angka kejadian) osteoporosis pada wanita lebih tinggi dibandingkan pria. Satu dari tiga wanita mempunyai kecenderungan terkena osteoporosis yang biasanya terjadi pada wanita paska menopause, sedangkan pada pria insidenya lebih kecil yaitu 1 dari 7 pria. Osteoporosis menjangkit pada usia di atas 45 tahun. Namun berdasarkan penelitian lain, wanita usia muda yaitu 23 tahun juga beresiko mengalami osteoporosis. (Depkes RI,2004)
       Penyebab osteoporosis di pengaruhi berbagai faktor dan pada individu bersifat multifaktor seperti gaya hidup tidak sehat (maerokok, minum alkohol, soft drink, kopi,mengkonsumsi nutrisi dengan kadar lemak yang tinggi), kurang gerak atau tidak berolahraga serta pengetahuan mencegah osteoporosis yang kurang yaitu kurangnya mengkonsumsi kalsiaum dan vitamin D. Vitamin D secara alami bisa kita dapatkan dari sinar matahari.
       Menurut Menteri Kesehatan RI tahun 2004, osteoporosis sering disebut sebagai “silent killer diseases”, seperti penyakit kronik lainnya osteoporosis tidak menunjukkan gejala awal dan tidak dapat terdiagnosa, hingga terjadinya patah tulang (Depkes RI,2004). Perubahan massa tulang dapat dideteksi dengan pemeriksaan kalsium dalam darah. Dengan kemajuan teknologi osteoporosis dapat dideteksi dengan cara yang mudah yaitu dengan menggunakan alat Bone Densito Metry (BDM), bagian yang diukur adalah lengan bawah, tulang punggung atau tulang panggul. Dari hasil pemeriksaan tersebut akan menginformasikan kandungan mineral tulang, densitas tulang dan presentasi massa tulang, sehingga resiko berkembangnya patah tulang dari penderita dapat dideteksi terlebih dahulu. Rumah Sakit Siaga Raya merupakan salah satu rumah sakit swasta yang terfokus memberikan pelayanan di bidang orthopaedi menyediakan fasilitas untuk pemeriksaan kepadatan tulang yang dapat menunjang diagnose terhadap pasien sesuai dengan keluhan yang dirasakan penderita. Pada tahun 2001 Rekam Medik Rumah Sakit Siaga Raya mrncatat sebanyak 129 pasien yang di diagnose osteoporosis, pada tahun 2002 jumlah yang tercatat sebanyak 160 pasien sedangkan pada tahun 2003 mengalami penurunan, jumlah yang tercatat sebanyak 108 pasien. (Rekam Medis RS. Siaga Raya, 2001-2003)
2.     Empiris
       Masalah osteoporosis di Indonesia telah mencapai tingkat yang perlu di waspadai. Berdasarkan data Puslitbang izi Departemen Kesehatan Republik Indonesia, penderita osteoporosis yang terdapat di Indonesia telah mencapai 19,7 % dan berada di rutan ke 6 setelah Cina. Organisasi kesehatan dunia(World Health Organization - WHO) menyatakan bahwa penyakit osteoporosis sudah saatnya mendaatkan perhatian yang lebih serius. Sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa penyakit tersebut merupakan sesuatu yang tidak perlu di khawatirkan karena di anggap suatu keadaan yang biasa pada usia lanjut. Osteoporosis menyerang baik wanita maupun pria. Namun dari data yang ada, resiko terjadi penyakit tersebut lebih tinggi di derita oleh wanita. Data terakhir mengungkap bahwa saat ini lebih dari 200 juta wanita di seluruh dunia menderita osteoporosis. Umumnya diderita oleh wanita monopouse (± 50 tahun), dengan kata lain 1 di antara 3 wanita usia tadi mempunyai resiko 40% menderita patah tulang.

3.     Rumusan masalah
a.       Bagaimana perkembangan tulang sampai terjadinya osteoporosis?
b.      Apa akibat dari osteoporosis?
c.       Bagaimana cara pengobatan osteoporosis?
d.      Apa saja zat gizi pencegah osteoporosis?
e.       Apa bahan makanan pencegah osteoporosis?
f.       Apa resep-resep untuk mencegah dan mengendalikan osteoporosis?

4.     Manfaat
Dari hasil penulisan artikel ilmiah ini penulis dapat mengetahui berbagai manfaat sebagai pengetahuan diantaranya :
1.      Penulis dapat mengetahui tanda-tanda osteoporosis
2.      Penulis dapat mengetahui bagaimana perkembangan tulang sampai terjadinya osteoporosis
3.      Pelulis dapat mengetahui jenis-jenis osteoporosis
4.      Pelulis dapat mengetaui faktor risiko terkena osteoporosis
5.      Pelulis dapat mengetaui akibat dari osteoporosis
6.      Pelulis dapat mengetahui cara pengobatan osteoporosis
7.      Pelulis dapat mengetahui zat gizi pencegah osteoporosis
8.      Pelulis dapat mengetahui  bahan makanan pencegah osteoporosis
9.      Pelulis dapat mengetahui resep-resep untuk mencegah dan mengendalikan osteoporosis.

B.  Landasan Teori

       Istilah osteoporosis sudah di kenal sejak zaman Yunani kuno. Osteoporosis berasal dari kata osteo berarti tulang dan porosis berarti berlubang, dengan demikian, secara keseluruhan, osteoporosis berarti tulang yang berlubang atau keropos.Osteoporosis merupakan penyakit yang menyerang tulang dimana keadaan tulang menjadi rapuh (fragile) dan mudah mengalami patah (fraktur). Osteoporosis bisa menyebabkan patah tulang.
       Osteoporosis biasa disebut silent killer disease karena terjadi secara diam-diam dan tidak menampakan gejala yang jelas. Banyak cara yang biasa dilakukan untuk pegobatan osteporosis. Antara lain melalui terapi medis dengan menggunakan obat, terapi hormonal dan terapi alamiah.
       Pada abad ke 21 penyakit osteoporosis atau biasa di kenal penyakit keropos tulang merupakan suatu endemik baru yang sulit di deteksi sejak sejak dini dan mengakibatkan pencegahan terhadap penyakit ini cenderung terlambat. Data dari yayasan osteoporosis internasional menyebutkan bahwa menyakit ini telah menyerang 200 juta orang di seluruh dunia. Di Amerika Serikat sekitar 44 juta orang telah menderita osteoporosis. Sedangkan di Eropa, Jepang, dan China 115 juta orang juga menderita penyakit osteoporosis. Bahkan departemen kesehatab Indonesia pada tahun 2006 m3nyatakan bahwa 19,7 % dari penduduk Indonesia menderita penyakit osteoporosis.
       Osteoporosis termasuk gangguan penyakit gangguan metabolisme yang disebabkan tubuh kehilangan kemampuannya dalam menyerap dan menggunakan bahan-bahan mineral untuk proses penulangan secara normal.
       Osteoporosis (tulang keropos) biasa disebut silent killer disease karena dan tidak menampakan gejala yang jelas.umumnya, penderita tidak mengeluh sakit, kecuali nyeri pada tulang, postur tubuh cenderung bungkuk atau tinggi badan berkurang. Osteoporosis bisa menyebabkan patah tulang meskipun dengan cedera yang sangat ringan. Osteoporosis di bedakan menjadi dua, yaitu osteporosis primer dan osteoporosis sekunder. Osteoporosis primer terjadi khususnya pada wanita yang di percepat dan di perberat dengan turunnya atau hilangnya hormon estrogen dalam tubuh ketika berusia lanjut, untuk itu sebelum terlambat sebaiknya kita mencegah terjadinya osteoporosis sejak dini.

C.  Pembahasan
1.      Definisi
Osteoporosis didefinisikan sebagai berikut :
  1. Osteoporosis adalah suatu penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah disertai perubahan-perubahan mikro arsitektur dan kemunduran kualitas jaringan tulang yang akhirnya menyebabkan terjadinya peningkatan kerapuhan tulang dan peningkatan kemungkinan resiko terjadinya patah tulang (WHO,1992)
  2. Osteoporosis adalah kondisi dimana tulang menjadi rapuh dan mudah retak atau patah, karena kekurangan kalsium. (DepKes RI).
2.      Tanda-tanda osteoporosis
ü  Tinggi badan memendek
ü  Nyeri pada tulang
ü  Sakit pinggang
ü  Tubuh bungkuk (kyposis)

3.      Proses perkembangan tulang sampai terjadinya osteoporosis
       Tulang merupakan struktur hidup yang di dalamnya terdapat protein, mineral, terutama kalsium dan fosfor. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan zat gizi tersebut dalam tulang maka tulang menjadi kurang padat dan rapuh.
a.       Struktur normal tulang
Struktur tulang yang normal terbentuk dari sel-sel yang kompak dan solid yang di kelilingi oleh jaringan pengikat dan batang tulang (tulang spons) yang di dalamnya terdapat sumsum.
a.       Perubahan massa tulang sepanjang fase kehidupan
Pada massa anak-anak dan remaja tulang berubah menjadi padat, pada umur 25 tahun pertumbuhan dan perkrmbangan tulang telah mencapai batas maksimum  (puncak masa tulang). Puncak masa tulang bervariasi, umumnya lebih tinggi pada pria di bandingkan pada wanita. Kehilangan masa tulang berhubungan langsung dengan peningkatan usia baik pada pria maupun wanita. Penurunan massa tulang di mulai pada usia 40 tahun dan terus berlangsung hingga akhir masa kehidupan.
b.      Perubahan struktur tulang pada penderita osteoporosis
Struktur tulang penderita osteoporosis menjadi rapuh, pengeroposan terjadi baik pada tulang kompak maupun tulang spons. Kerja (sel pembentuk tulang) sehingga kehilangan masa tulang tidak dapat di hindaridan kepadatan tulang menjadi berubah. Akibatnya tulang menjadi keropos, tipis dan mudah mengalami patah, terutama pada tulang pergelangan.
c.       Jenis-jenis osteoporosis
1.      Osteoporosis primer
Osteoporosisprimer adalah Osteoporosis yang terjadi akibat proses akiat proses penuaan, jenis ini ada 2 tipe, yaitu :
ü Osteoporosis ppost-menopausal
ü Osteoporosis sanilis (pada pria)
2.      Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder terjadi karena adanya penyakit tertentu yang dapat mempengaruhi kepadatan massa tulang dan gaya hidup yang tidak sehat  disebabkan :
ü Penyakit endokrin
ü Keganasan/kanker
ü Obat cortico steroid
ü Merokok
ü Minuman beralkohol
ü Kurang aktivitas

4.      Faktor Resiko Osteoporosis
Berdasarkan hasil penelitian dan data statistik, faktor risiko terkena osteoporosis wanita > pria.
1.      Jenis kelamin
Wanita mempunyai risiko terkena osteporosis lebih besar dari pada pria. Sekitar 80% di antara penderita osteoporosis adalah wanita, itu disebabkan karena tulang wanita 4 kali lebih kecil di bandingkan dengan tulang pria. Nilai massa tulang wanita umumnya hanya sekitar 800 gram lebih kecil di bandingkan pria yaitu sekitar 1200 gram.
2.      Umur
Semakin tua umur seseorang, resiko terkena osteoporosis menjadi semakin besar.
3.      Ras
Semakin terang warna kulit seseorang maka resiko osteoporosis semakin tinggi. Orang kulit putih > orang kulit hitam. Ras Asia memiliki insiden terkena osteoporosis lebih besar di bandingkan dengan Ras Afrika.
4.      Riwayat keluarga
Orang yang mempunyai keluarga penderita osteoporosis lebih cenderung beresiko terjadinya osteoporosis di bandingkan dengan keluarga yang tidak mempunyai riwayat osteoporosis
5.      Tipe tubuh
Semakin kecil rangka tubuh maka semakin besar resiko terkena osteoporosis.
6.      Monopouse
Osteoporosis pada monopouse terjadi akibat jumlah estrogen dan progesteron menurun.

5.      Akibat osteoporosis
1.      Patah tulang pergelangan
2.      Patah tulang belakang / punggung
3.      Patah tulang pinggul

6.      Cara  pengobatan osteoporosis
ü  Terapi medis
Terapi medis dengan cara diberi obat pereda sakit seperti paracetamol, codein, co-dydramol, co-codramol, dan co-proxamol.
ü  Terapi hormon pada wanita :
*      Hormon replacement therapy (HRT)
*      Kalsitonin
*      Testoteron
ü  Terapi non-hormonal
ü  Terapi alamiah

7.      Zat gizi pencegah osteoporosis
1.    Kalsium
v  Berfungsi sebagai kepadatan tulang dan gigi
v  Menabung kalsium 500-1.000 mg/hari
v  Sumber kalsium :
§  Susu dan produk olahannya
§  Ikan
§  Kacang-kacangan
§  Buah dan sayuran terutama yang berwarna hijau seperti daun katuk, bayam, dan lain-lain
2.         Fosfor
v Berperan dalam klasifikasi tulang dan gigi
v Kebutuhan harian 400-500 mg/hari
v Sumber fosfor :
§  Daging sapi
§  Daging ayam
§  Ikan
§  Telur
§  Susu dan hasil olahannya
§  Kacang-kacangan
§  Serealia
3.    Mangan dan boron
Mineral lain yang terdapat dalam tulang dan berperan dalam pembentukan tulang adalah mangan (Mn) dan boron (Bo).
4.    Vitamin D
·      Berperan dalam meningkatkan penyerapan kalsium dan mencegah penyakit rickets
·      Sumber utamanya adalah sinar matahari
·      Sumber lain :
Ø  Kuning telur
Ø  Hati sapi
Ø  Krim
Ø  Ikan
Ø  Mentega
Ø  Minyak ikan
5.      Fitoestrogen (estrogen alami)
·         Berfungsi untuk meningkatkan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh pada masa monopouse, dimana kadar esterogen sangat rendah, asupan fitoestrogen mampu berfungsi sebagai pengganti estrogen yang melindungi tubuuh daru sindrom monopouse dan mencegah osteoporosis.
·         Sumber Fitoestrogen :
ü  Kacang kedelai
ü  Apel
ü  Anggur
ü   Bawang putih
ü  Brokoli
ü  Cabai
ü  Stroberi
ü  Mentimun
ü  Tomat
ü  Wortel

8.      Bahan makanan pencegah osteoporosis
Dalam upaya pencegahan osteoporosis, konsumsi makanan sehari-hari selain memperhatikan angka kecukupan berbagai zat gizi, juga harus memperhatikan pemilihan bahan yang dapat menunjang kesehatan tulang. Bahan makanan tersebut yaitu :
1.    Susu dan produk olahannya seperti keju, yoghurt, dan es krim.
2.    Ikan yang di makan bersama tulangnya, seperti ikan teri (segar/asin), sarden kaleng, bandeng presto, ikan balita, pepes ikan mas, ikan selar, dan ikan-ikan kecil.
3.    Kacang-kacangan dan produk olahannya seperti kacang kedelai di olah menjadi tempe, tahu, dan susu kedelai.
4.    Buah dan sayur yang berwarna hijau, kuning, merah, atau oranye merupakan komponen yang sangat sehat dan dapat digunakan pada diet dalam pencegahan osteoporosis, seperti wortel, brokoli, kubis, bayam, tomat, mentimun, daun singkong, kangkung, alpukat, pisang, jeruk, anggur, dan lain-lain.
9.      Resep untuk mencegah dan mengendalikan osteoporosis
Resep tradisional
1.      Bandeng presto
ü  Bahan : dua buah ikan bandeng yang sama besarnya
ü  Bumbu kasar : dua iris tipis lengkuas, dua lembar daun salam, satu batang sereh di-geprek, dua lemar daun jeruk purut.
ü  Bumbu yang dihaluskan : empat siung bawang putih, dua buah bawang merah, satu centi meter kunyit, satu centi meter jahe, satu buah cabai merah, garam secukupnya.
ü  Cara membuat : Bandeng di bersihkan, di buang isi perutnya, boreh bumbu halus ke seluruh badan dan kebagian dalam perut, sediakan panci dan alasi dengan batang daun, atur sebagian bumbu kasar.
ü  Hidangkan dengan cara di goreng.
2.      Belut cabai hijau
*      Bahan : 250 gram belut ukuran jari kelingking, satu sendok makan air jeruk nipis
*      Bumbu : satu centi meter kunyit, satu centi meter jahe, dua siung bawang putih, garam               secukupnya, minyak untuk menggoreng.
*      Sambal cabai hijau : lima buah cabai hijau, tiga buah bawang merah, garam secukupnya, minyak untuk menumis.
*      Cara membuat : belut di bersihkan, lumuri bumbu halus dan air jeruk nipis, goreng sampai garing. Cabai, bawang merah, tumbuk kasar, tambah garam, tumis sampai layu. Hidangkan segera setelah belut goreng di campur dengan sambal cabai hijau.
3.      Gulai daun singkong tumbuk
v  Bahan : 250 gram daun singkong, 50 gram ebi, 500 mili liter santan, satu lembar daun kunyit, dua batang daun sereh, iris serong setebal satu centi meter, satu iris lengkuas.
v  Bumbu di haluskan : lima buah bawang merah, empat buah cabai merah, dua centi meter kunyit, dua centi meter jahe, satu sendok makan air asam, garam secukupnya, minyak untuk menumis.
v  Cara membuat : daun singkong di rebus sebentar, tiriskan, tumbuk kasar. Ebi di rebus air panas,tumis bumbu halus, agar santan tidak pecah api jangan terlalu besar dan aduk-aduk.
Minuman
1.      Mangga egg nog
ü  Bahan : dua butir telur, pisahkan putih dan kuningnya, 75 mili liter whippy cream, 75 mili liter susu, 250 gram mangga matang di pohon, 150 mili liter air, 50 gram gula pasir.
ü  Hiasan : bubuk pala
ü  Cara membuat : kocok kuning telur bersama 25 gram gula pasir, masukan susu segar, aduk-aduk, masukan pada panci, panaskan, gunakan api sedang, aduk selama 10 menit dan tiriskan. Kocok putih telur sampai mengembang, beri whippy cream aduk-aduk. Buat jus mangga, campurkan semua bahan tadi, simpan dalam lemari es selama satu jam, hidangkan dan atasnya di abur serbuk pala.
Jus buah dan sayuran pencegah osteoporosis
1.      Jus anggur kiwi
ü  Bahan : 250 gram anggur, buang biji, potong-potong. 75 gram kiwi potong-potong, satu per empat gelas yoghurt polos, satu per empat gelas es serut polos.
ü  Cara membuat : campur semua bahan, blender dengan juicer, hidangkan segera
2.      Hula kula
ü  Bahan : 100 gram nanas potong-potong, 75 mili liter santan, 75 mili liter kedelai, es batu.
ü  Cara membuat : campur nanas, santan, dan susus ledelai blender dengan juicer, hidangkan dengan es batu.
3.      Susu kacang hijau.
ü  Bahan : 100 gram kacang hijau rendam semalam, 750 mili liter air panas, dua lembar pandan, satu batang sereh di geprek, dua centi meter jahe di geprek, dua sendok makan simple syrup.
ü  Cara membuat : rendam kacang hijau, buang airnya, tambahkan air panas, masukkan soy bean milk maker, sisihkan, buang ampasnya. Panaskan, beri pandan, sereh, jahe dan gula. Biarkan mendidih. Hidangkan panas atau dingin.

D.  Kesimpulan dan Saran
a.  Kesimpulan
·         Osteoporosis adalh penyakit tulang yang dapat menyebabkan patah tulang. Osteoporosis disebabkan adanya hubungan umur, ras,  jenis kelamin, dan indeks massa tubuh dengan kepadatan tulang.
·         Diperoleh model terbaik dalam menentukan determinan kepadatan massa tulang yaitu umur dan indeks massa tubuh merupakan variabel yang dominan yang terhubung dengan kepadatan massa tulang.
·         Wanita lebih rentan mengalami osteoporosis dari pada laki-laki.
·         Osteoporosis dapat dibagi menjadi 2 yaitu, osteoporosis primer dan sekunder
·         Anak-anak dan remaja dapat juga mengalami osteoporosis
·         Untuk mencegah terjadinya osteoporosis dapt mengkonsumsi makanan dan jus herbal tanpa efek samping diantaranya resep tradisional yaitu bandeng presto, belut cabai hijau, dan  gulai daun singkong tumbuk. Minuman mangga egg nog. Jus buah dan sayuran pencegah osteoporosis jus anggur kiwi, hula kula, dan susu kacang hijau.

b.  Saran
Saran penulis bagi masyarakat yang sudah berusia 20 tahun alangkah baiknya menjaga pola makan, dan mulai makan makanan yang di sarankan pada buku ini. Bagi yang sudah terlanjur menderita penyakit osteoporosis dan ingin sembuh dari penyakit osteoporosis tersebut juga bisa menggunakan resep yang terdapat dalam buku ini.













DAFTAR PUSTAKA
Wirakusumah, E.S. Mencegah Osteoporosis (Bogor: Penebar Swadaya, 2007).
Wirakusumah, E.S. Tetap Bugar di Usia Lanjut (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997)
Magee, E. Eat well for a Healthy Menopouse (New York: John Wiley and Sons, 1996).
Hartono, Muljadi. Mencegah dan Mengatasi Osteoporosis (Jakarta: Puspa Swara, 2001).
www.Departemen Kesehatan RI. 2004